Oleh: Endang Setiawati, S.Pd.I.
Tidak terasa, satu tahun kembali berlalu. Waktu berjalan begitu cepat, meninggalkan jejak yang mungkin penuh syukur, tetapi juga menyisakan penyesalan yang belum sempat kita perbaiki. Pergantian Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah adalah sapaan kasih dari Allah SWT yang mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, menenangkan hati, lalu bertanya dengan penuh kejujuran kepada diri sendiri.
Sudahkah hidup ini benar-benar berarti? Sudahkah kita menjadi sebab hadirnya senyum bagi orang lain? Ataukah waktu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak kebaikan yang akan kita bawa menghadap Allah SWT?
Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah bukan hanya perjalanan menempuh jarak. Di balik langkah-langkah beliau, ada air mata yang ditahan, ada kampung halaman yang harus ditinggalkan, ada keluarga, sahabat, dan kenangan yang harus dikorbankan demi mempertahankan iman. Hijrah adalah pelajaran tentang keberanian melepaskan kenyamanan demi keridaan Allah, tentang keyakinan bahwa di balik setiap pengorbanan akan selalu ada pertolongan-Nya.
Begitulah sejatinya hijrah. Ia bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah hati. Dari lalai menjadi lebih sadar. Dari ego menjadi kepedulian. Dari sekadar hidup untuk diri sendiri menjadi hidup yang membawa manfaat bagi sesama.
Semangat itulah yang sejak dahulu menghidupkan perjuangan keluarga besar Muslimat Nahdlatul Ulama.
Di balik nama besar Muslimat NU, ada ribuan bahkan jutaan perempuan yang memilih mengabdi dalam diam. Mereka mungkin tidak dikenal banyak orang, tidak pernah menjadi sorotan, bahkan sering kali melupakan lelahnya sendiri. Namun setiap pagi mereka membangunkan anak-anaknya untuk salat, mengajarkan huruf-huruf Al-Qur’an dengan penuh kesabaran, menghadiri majelis taklim, membantu tetangga yang kesulitan, mengurus organisasi, sambil tetap menjadi istri dan ibu bagi keluarganya.
Mungkin dunia tidak pernah mencatat pengorbanan mereka. Namun Allah tidak pernah lalai menghitung setiap tetes keringat, setiap doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, setiap langkah menuju majelis ilmu, dan setiap senyum yang mereka hadiahkan kepada orang lain.
Di sanalah letak kemuliaan seorang kader Muslimat NU.
Di Kabupaten Tulang Bawang Barat, semangat pengabdian itu terus tumbuh. Dari desa ke desa, dari majelis ke majelis, dari rumah-rumah sederhana hingga ruang-ruang organisasi, Muslimat NU terus menyalakan cahaya. Melalui pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga pembinaan keluarga, mereka hadir bukan untuk mencari tepuk tangan, melainkan untuk memastikan bahwa masih ada tangan yang menggenggam mereka yang lemah, masih ada hati yang peduli kepada sesama.
Karena sejatinya, pengabdian bukan tentang seberapa besar yang kita lakukan, tetapi seberapa tulus kita melakukannya.
Tahun Baru Islam mengingatkan bahwa organisasi pun harus terus berhijrah. Berhijrah menjadi lebih amanah dalam mengelola organisasi, lebih profesional dalam melayani, lebih kuat dalam persaudaraan, dan lebih istiqamah dalam menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Di tengah zaman yang terus berubah, ketika teknologi berkembang begitu cepat dan tantangan moral semakin berat, Muslimat NU memikul amanah yang tidak ringan. Menjadi ibu yang melahirkan generasi berakhlak, menjadi pendidik pertama bagi anak-anak, menjadi pelopor moderasi beragama, menjadi penggerak masyarakat, sekaligus menjadi penjaga nilai-nilai keislaman yang ramah, santun, dan penuh kasih.
Namun sesungguhnya, perubahan besar selalu lahir dari hal-hal yang sederhana.
Dari seorang ibu yang setiap malam mendoakan anak-anaknya.
Dari tangan yang ringan membantu tetangga.
Dari langkah menuju pengajian meski tubuh terasa lelah.
Dari kesediaan menghadiri rapat organisasi meski pekerjaan rumah belum sepenuhnya selesai.
Dari kesabaran mendengarkan keluh kesah sesama.
Dari senyum yang mampu menguatkan hati orang lain.
Amal-amal kecil itulah yang mungkin tidak pernah menjadi berita, tetapi akan menjadi cahaya ketika kita berdiri di hadapan Allah SWT.
Memasuki 1 Muharram 1448 Hijriah, marilah kita membuka lembaran baru dengan hati yang lebih bersih. Mari saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Mari saling mendoakan, bukan saling menyalahkan. Mari memperkuat ukhuwah, memperluas manfaat, dan menjadikan setiap langkah dalam organisasi sebagai jalan menuju ridha Allah SWT.
Para ulama Nahdlatul Ulama telah mewariskan satu pelajaran yang sangat berharga: keberkahan organisasi tidak pernah lahir dari kemegahan acara atau banyaknya program kerja semata. Keberkahan tumbuh dari hati yang ikhlas, dari kebersamaan yang dijaga dengan kasih sayang, dan dari para pengurus yang bekerja tanpa pamrih, hanya mengharap balasan dari Allah SWT.
Akhirnya, Tahun Baru Islam bukanlah tentang seberapa banyak harapan yang kita ucapkan, melainkan seberapa besar keberanian kita untuk berubah.
Mari berhijrah dari hati yang mudah mengeluh menjadi hati yang pandai bersyukur.
Dari lisan yang mudah menghakimi menjadi lisan yang menyejukkan.
Dari langkah yang hanya mengejar dunia menjadi langkah yang mengantarkan kita menuju ridha Allah.
Semoga Allah SWT senantiasa menguatkan langkah seluruh kader Muslimat Nahdlatul Ulama, menjaga keikhlasan dalam setiap pengabdian, melimpahkan kesehatan dan keberkahan, serta menjadikan Muslimat NU sebagai mata air kebaikan yang tak pernah kering, penerang bagi keluarga, penyejuk bagi masyarakat, dan penguat bagi bangsa Indonesia.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
“Tidak semua orang dikenang karena jabatan, tetapi banyak yang abadi karena ketulusan pengabdiannya. Mari berhijrah dengan hati yang lebih ikhlas, melayani dengan cinta, dan mengabdi tanpa lelah. Sebab di hadapan Allah, yang paling mulia bukanlah yang paling terkenal, melainkan yang paling tulus memberi manfaat bagi sesama.”
![]()











