Penengahan Lampung Selatan,Seruntingnews.id– Abdul Latif yang biasa disapa Temunggung Latif Menjadi Pengusaha Batu Fosil dari Lampung Selatan telah membuktikan bahwa kerja keras, ketekunan, dan kreativitas dalam inovasi adalah kunci sukses di dunia industri batu fosil.
Di kabupaten Lampung Selatan tepatnya di kecamatan Penengahan Temunggung Latif telah mengembangkan usahanya khususnya batu fosil dengan berbagai bahan yang unik menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi, dimana seluruh material kayu telah digantikan oleh mineral-mineral, tetapi struktur asli kayunya tetap dipertahankan.
Menurut Temunggung Latif, “potensi kayu fosil di Indonesia masih cukup besar, terutama di daerah-daerah dengan sejarah geologi yang mendukung pembentukan fosil. Penemuan dan pemanfaatan kayu fosil ini dapat menjadi industri yang menguntungkan, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.”
Kayu fosil dari Indonesia memiliki nilai tinggi di pasar internasional karena keunikan dan keindahannya,jelas Temunggung Latif.
Karena keunikan dan keindahannya itulah Temenggung Latif memilihnya batu fosil menjadi bahan baku utama buatannya, tentu saja dengan memberikan sentuhan khas dan eksklusif yang tidak dimiliki produk batu fosil lainnya.
“Saya ingin produk kami berbeda dengan produk lainnya Menggunakan kayu biasa sangat kompetitif, tetapi dengan batu fosil, kami bisa menawarkan sesuatu yang unik,” papar Temenggung Latif dalam percakapannya dengan media Seruntingnews, Sabtu (1/8/2026).
Temenggung Latif yang merupakan seorang Kepala Desa(Kades) tepat nya desa Ruang Tengah kecamatan Penengahan kabupaten Lampung Selatan ini menceritakan, sejauh ini batu fosil sebagai bahan baku andalannya meskipun tidak sebanyak kayu, tetapi cukup tersedia dan memberikan nilai tambah yang signifikan pada produk batu fosilnya.
Kayu fosil ini dihargai karena keindahan alaminya dan kekuatan materialnya.
Setiap potongan kayu fosil memiliki pola dan warna yang unik, menjadikannya bahan yang sangat diinginkan untuk membuat meja, kursi, siger, dan berbagai item dekoratif lainnya.
Menurut Temenggung Latif menggunakan batu fosil sebagai bahan baku memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam hal pemrosesan.
Karena sifatnya yang sudah menjadi batu, proses pengerjaannya membutuhkan peralatan khusus dan keahlian yang tinggi. Namun, dengan permintaan yang terus meningkat, terutama dari pasar lokal dalam dan luar negeri, peluang bisnis dalam industri ini sangat besar.
Menurutnya, untuk tetap eksis, pelaku usaha harus memiliki sikap mental yang tidak mudah menyerah, semangat kerja keras, serta kreativitas dalam berinovasi. “Walaupun memiliki modal kuat dan tim marketing yang handal, tanpa desain yang menarik dan brand yang kuat, industri baru fosil tidak akan bertahan lama,” tuturnya.
Mengakhiri percakapan,
Temenggung Latif menekankan pentingnya mengeksplor kemampuan dan keberanian dalam meningkatkan kreativitas, Pungkasnya.
(Amr)











