Pesawaran, Seruntingnews.id – Polemik pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SD Negeri 2 Padang Cermin, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, semakin memanas.
Sejumlah orang tua siswa kelas VI melayangkan protes setelah anak-anak mereka diminta keluar dari ruang ujian saat pelaksanaan TKA pada Selasa, 28 April 2026. Keputusan tersebut disebut berdasarkan penilaian pihak sekolah yang menganggap kemampuan akademik siswa berada di bawah rata-rata.Rabu ( 6/5/2026).
Salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa atas perlakuan tersebut. Ia menilai tindakan sekolah tidak hanya tidak adil, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis anak.
“Kami tidak terima anak kami dikeluarkan dari kelas hanya karena dianggap tidak layak ikut ujian. Alasan kemampuan di bawah rata-rata itu sangat menyakitkan. Seharusnya sekolah membimbing, bukan malah membedakan anak di depan teman-temannya,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa kejadian serupa bukan kali pertama terjadi.
“Ini sudah yang ketiga kalinya. Bahkan ada murid kelas tiga yang dikabarkan akan dikeluarkan dari sekolah dengan alasan yang tidak transparan,” tambahnya.
Sementara itu, Wali Kelas VI, Ardian, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena TKA bersifat tidak wajib dan hanya diperuntukkan bagi siswa yang dinilai siap secara akademik.
Namun, penjelasan tersebut belum mampu meredam kekecewaan para orang tua. Upaya konfirmasi kepada pihak sekolah pun belum membuahkan hasil.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala SDN 2 Padang Cermin belum dapat ditemui untuk memberikan keterangan. Salah satu staf sekolah menyebutkan bahwa kepala sekolah sedang berada di luar kantor.
“Kepala sekolah sedang tidak ada di tempat, ada urusan di luar,” ujarnya singkat.
Ketidakhadiran pihak pimpinan sekolah di tengah polemik ini turut disayangkan oleh wali murid. Mereka berharap adanya perhatian serius dari pihak terkait, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Pesawaran.
“Kami berharap Dinas Pendidikan segera turun tangan agar masalah ini tidak terulang dan anak-anak tidak merasa dikucilkan secara akademik,” tegas salah satu wali murid.
(Ali)











