Oleh : Ansyori Ali Akbar| Jurnalis dan pengamat sosial.
Senin,14.09.2026
Ada perjalanan yang mungkin tidak seluruhnya tercatat di lembar koran, tetapi meninggalkan makna yang dalam. Perjalanan seorang anak daerah yang tumbuh dari kesederhanaan, dibesarkan oleh doa orang tua, lalu menapaki jalan pengabdian dari dunia jurnalistik hingga dipercaya mengemban amanah dalam pemerintahan.
Deswanto, S.H., M.H., putra dari Bapak Birman dan Ibu Junaidah, lahir di Menggala, 18 September 1981. Kini, ia menjalani kehidupan bersama istri tercinta, Lindawati, S.Pdi.Gr.
Perjalanan itu bermula dari dunia jurnalistik. Sekitar tahun 2009, Deswanto mengawali kiprahnya sebagai wartawan Radar Tuba, bagian dari Radar Lampung Group, selama kurang lebih satu tahun.
Pada masa itu, ia tidak mengenal daerah hanya dari sisi administrasi, tetapi dari dekat. Ia bertemu masyarakat, mendengar keluhan, menyerap aspirasi, dan melihat langsung berbagai dinamika yang terjadi di tengah kehidupan warga.
Dunia jurnalistik mengajarkannya satu hal penting: bahwa di balik setiap kebijakan, ada masyarakat yang merasakan dampaknya. Di balik sebuah berita, ada suara warga yang ingin didengar.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika Deswanto memasuki dunia pemerintahan. Ia menjadi bagian dari perjalanan birokrasi Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat dan dipercaya mengemban berbagai jabatan di lingkungan Sekretariat Daerah maupun Dinas Komunikasi dan Informatika.
Dalam perjalanan kariernya, Deswanto pernah dipercaya sebagai Kepala Seksi Publikasi pada Bagian Humas Sekretariat Daerah, kemudian Kepala Seksi Standarisasi Penyiaran dan Media pada Dinas Komunikasi dan Informatika, serta beberapa jabatan pada Sekretariat Daerah sebelum akhirnya dipercaya sebagai Kepala Bidang Media Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tulang Bawang Barat sejak Oktober 2021.
Di bidang media dan komunikasi publik, pengalaman jurnalistiknya menemukan ruang pengabdian yang lebih luas. Pena yang dahulu digunakan untuk menulis berita, kini menjadi bekal untuk membangun komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Baginya, komunikasi publik bukan sekadar menyampaikan informasi. Lebih dari itu, komunikasi adalah bagaimana pemerintah dapat hadir, mendengar, memahami dan menjelaskan setiap kebijakan kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami.
Pengalaman panjang tersebut kini memasuki babak baru.
Deswanto dipercaya mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Camat Pagar Dewa.
Amanah ini tentu memiliki tantangan tersendiri. Kecamatan Pagar Dewa bukan hanya wilayah administratif, tetapi juga memiliki sejarah, karakter masyarakat dan potensi yang harus dipahami dengan baik.
Menjadi Plt. Camat berarti berada lebih dekat dengan masyarakat. Mendengar langsung persoalan di lapangan, membangun koordinasi dengan kepala tiyuh, aparatur pemerintahan, tokoh masyarakat, dunia usaha dan seluruh elemen masyarakat.
Di sinilah pengalaman masa lalu kembali menemukan maknanya.
Dulu, Deswanto menulis tentang masyarakat. Kini, ia berada di tengah masyarakat untuk memberikan pelayanan.
Dulu, ia menyuarakan aspirasi melalui tulisan. Kini, ia memiliki ruang yang lebih luas untuk menerjemahkan aspirasi tersebut dalam bentuk pelayanan dan kebijakan pemerintahan.
Pena jurnalistik yang pernah digenggamnya tidak benar-benar ditinggalkan. Nilai-nilai yang lahir dari perjalanan itu tetap menjadi bagian dari dirinya: keberanian melihat kenyataan, kemampuan mendengar, membangun komunikasi dan memahami persoalan dari sudut pandang masyarakat.
Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa tidak ada pengalaman yang benar-benar terbuang. Setiap liputan, setiap pertemuan dengan masyarakat, setiap proses belajar dan setiap amanah dalam perjalanan birokrasi menjadi bagian dari proses panjang membentuk seorang pemimpin.
Di balik perjalanan Deswanto, ada doa orang tua, Bapak Birman dan Ibu Junaidah, serta dukungan keluarga yang menjadi bagian penting dalam setiap langkah pengabdiannya.
Kini, dengan amanah sebagai Plt. Camat Pagar Dewa, perjalanan itu kembali dimulai dari ruang yang berbeda.
Bukan lagi sekadar menuliskan apa yang terjadi di tengah masyarakat, tetapi ikut hadir dan bekerja bersama masyarakat.
Bukan lagi hanya menyampaikan suara rakyat, tetapi berupaya memastikan suara itu menjadi bagian dari pelayanan pemerintahan.
Dari tinta jurnalistik menuju tinta pengabdian. Dari menyuarakan masyarakat menjadi melayani masyarakat.
Dan kisah itu kini terus berlanjut—bukan hanya sebagai sebuah perjalanan karier, tetapi sebagai bagian dari pengabdian untuk masyarakat Kecamatan Pagar Dewa dan Kabupaten Tulang Bawang Barat.











