Panaragan,Seruntingnews.Id – Upaya pelestarian sejarah lokal terus dilakukan oleh generasi muda di Tiyuh Panaragan. Salah satu tokoh pemuda (Menganai) setempat, Irawansyah, menghadirkan inovasi dengan meriwayatkan kisah Minak Indah dalam bentuk video animasi berbasis kecerdasan buatan (AI).Senin, 13.4.2026.
Karya tersebut dikemas dalam lima episode dan telah dipublikasikan melalui akun TikTok miliknya (@uda.irawansyah). Hingga saat ini, rangkaian video tersebut telah ditonton lebih dari 20 ribu kali, serta mendapat beragam respons dari masyarakat.
Irawansyah menjelaskan bahwa kisah Minak Indah yang diangkat memiliki keterkaitan erat dengan Situs Keramat Gemol, salah satu keramat bersejarah di wilayah Lampung. Berdasarkan penelusuran yang ia lakukan terhadap peta Hindia Belanda tahun 1915, 1930 dan 1945 pada lembar 1 hingga 52 di wilayah Residen Lampung, hanya terdapat dua situs keramat yang tercatat secara tertulis, dan Keramat Gemol menjadi salah satunya.
“Ini bukan sekadar cerita, tetapi memiliki jejak historis yang bisa ditelusuri. Karena itu, penting untuk kita riwayatkan dan kenalkan kembali kepada masyarakat,” ujarnya.
Kehadiran video animasi tersebut mendapat apresiasi, terutama dari kalangan generasi muda yang menilai pendekatan kreatif ini mampu membuat sejarah lebih mudah dipahami. Namun demikian, tidak sedikit pula saran dan kritik yang muncul, khususnya dari pihak yang belum mengetahui adanya rujukan dalam penyusunan alur cerita animasi tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Irawansyah menegaskan bahwa narasi yang disajikan bukanlah tanpa dasar. Ia menyebutkan bahwa alur cerita dalam animasi tersebut telah merujuk pada sumber tertulis berupa buku yang telah diterbitkan.
“Ada rujukan buku yang menjadi dasar cerita ini. Sudah saya sampaikan pada postingan dan kolom komentar, agar masyarakat juga mengetahui sumbernya,” jelasnya.
Sebagai kreator sekaligus tokoh pemuda Panaragan, Irawansyah berharap Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat dapat memberikan perhatian terhadap upaya yang ia lakukan. Menurutnya, karya berbasis budaya lokal seperti ini memiliki potensi besar dalam mendukung pelestarian sejarah sekaligus menjadi media edukasi dan promosi budaya daerah.
Ia optimistis, dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah, pengembangan konten sejarah berbasis digital dapat dilakukan secara lebih maksimal dan berkelanjutan.
Langkah yang dilakukan Irawansyah pun dinilai sebagai bentuk nyata kontribusi pemuda dalam menjaga warisan budaya di era modern. Ke depan, diharapkan adanya sinergi antara pemerintah daerah, tokoh adat, dan generasi muda agar sejarah lokal tidak hanya terjaga, tetapi juga berkembang melalui inovasi teknologi.
**Angkat Kisah Minak Indah Berbasis Animasi AI, Pemuda Panaragan Harap Perhatian Pemkab Tulang Bawang Barat**
Upaya pelestarian sejarah lokal terus dilakukan oleh generasi muda di Tiyuh Panaragan. Salah satu tokoh pemuda (Menganai) setempat, Irawansyah, menghadirkan inovasi dengan meriwayatkan kisah Minak Indah dalam bentuk video animasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Karya tersebut dikemas dalam lima episode dan telah dipublikasikan melalui akun TikTok miliknya (@uda.irawansyah). Hingga saat ini, rangkaian video tersebut telah ditonton lebih dari 20 ribu kali, serta mendapat beragam respons dari masyarakat.
Irawansyah menjelaskan bahwa kisah Minak Indah yang diangkat memiliki keterkaitan erat dengan Situs Keramat Gemol, salah satu keramat bersejarah di wilayah Lampung. Berdasarkan penelusuran yang ia lakukan terhadap peta Hindia Belanda tahun 1915, 1930 dan 1945 pada lembar 1 hingga 52 di wilayah Residen Lampung, hanya terdapat dua situs keramat yang tercatat secara tertulis, dan Keramat Gemol menjadi salah satunya.
“Ini bukan sekadar cerita, tetapi memiliki jejak historis yang bisa ditelusuri. Karena itu, penting untuk kita riwayatkan dan kenalkan kembali kepada masyarakat,” ujarnya.
Kehadiran video animasi tersebut mendapat apresiasi, terutama dari kalangan generasi muda yang menilai pendekatan kreatif ini mampu membuat sejarah lebih mudah dipahami. Namun demikian, tidak sedikit pula saran dan kritik yang muncul, khususnya dari pihak yang belum mengetahui adanya rujukan dalam penyusunan alur cerita animasi tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Irawansyah menegaskan bahwa narasi yang disajikan bukanlah tanpa dasar. Ia menyebutkan bahwa alur cerita dalam animasi tersebut telah merujuk pada sumber tertulis berupa buku yang telah diterbitkan.
“Ada rujukan buku yang menjadi dasar cerita ini. Sudah saya sampaikan pada postingan dan kolom komentar, agar masyarakat juga mengetahui sumbernya,” jelasnya.
Sebagai kreator sekaligus tokoh pemuda Panaragan, Irawansyah berharap Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat dapat memberikan perhatian terhadap upaya yang ia lakukan. Menurutnya, karya berbasis budaya lokal seperti ini memiliki potensi besar dalam mendukung pelestarian sejarah sekaligus menjadi media edukasi dan promosi budaya daerah.
Ia optimistis, dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah, pengembangan konten sejarah berbasis digital dapat dilakukan secara lebih maksimal dan berkelanjutan.
Langkah yang dilakukan Irawansyah pun dinilai sebagai bentuk nyata kontribusi pemuda dalam menjaga warisan budaya di era modern. Ke depan, diharapkan adanya sinergi antara pemerintah daerah, tokoh adat, dan generasi muda agar sejarah lokal tidak hanya terjaga, tetapi juga berkembang melalui inovasi teknologi.
Editor : Azam











