130 TAHUN TERTIDUR: RATU KOPI ROTTERDAM ITU KINI TELAH KEMBALI

- Jurnalis

Senin, 28 September 2026 - 21:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Rizqon Agustia Fahsa | 28.9.2026.

Profesi: Sutradara Debutan Film Layar Lebar asal Lampung

Tahukah kamu?  Pada akhir abad ke-19, komoditas paling berharga dari tanah Lampung bukan cuma lada. Sejarah mencatat bahwa sejak tahun 1891, pemerintah kolonial Belanda membudidayakan varietas Kopi Liberika secara masif di wilayah ini karena kualitas tanah lereng Gunung Pesawaran yang luar biasa subur. Perkebunan kopi yang tercatat sebagai salah satu yang terluas di dunia.

ADVERTISEMENT

Donasi

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kopi Liberika Pesawaran ini memiliki karakteristik yang sangat unik: aroma buah nangka yang khas, ukuran ceri yang besar, dan cita rasa eksotis yang tebal. Keunikan inilah yang membuat para bangsawan di Pelabuhan Rotterdam, Belanda, jatuh cinta. Kopi dari bumi Pesawaran sukses mengguncang pasar Eropa kala itu!

Baca Juga :  KONFLIK PERTANAHAN MASYARAKAT LIMA KETURUNAN KELUARGA BANDAR DEWA DAN PT. HIM (HUMA INDAH MEKAR) : KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT

Sayangnya, seiring waktu, kejayaan emas Kopi Liberika legendaris ini meredup dan terlupakan oleh zaman. Raksasa itu tertidur, hingga hari ini.

Kini, penantian panjang itu akan segera berakhir.

Dilahirkan kembali dari tanah historis yang sama, Kopi Cap Gunung Pesawaran hadir untuk menjemput kembali takhta yang sempat hilang. Kami membawa misi besar: membangkitkan kembali ruh dan kejayaan Kopi Liberika serta aroma historis Pesawaran langsung ke dalam cangkir modernmu hari ini.

Baca Juga :  Dugaan Mark Up Proyek Pekon Tanjung Heran: Perbuatan Melawan Hukum

Saat kamu meminum Kopi Cap Gunung Pesawaran, kamu tidak hanya sedang menikmati kopi. Kamu sedang meneguk sejarah, menghargai keringat para leluhur, dan merayakan kembalinya sang legenda.

Dari lereng Pesawaran untuk dunia. Bersiaplah, sang kopi telah bangkit

Berita Terkait

Ketika Pena Jurnalistik Menjadi Tongkat Pengabdian
Hijrah Hati, Menguatkan Khidmah, Menebar Cahaya untuk Umat
Masjid Jami’ Panaragan : Beton Expose Sebagai Simbol Harapan Yang Menyentuh Langit
MASALAH SAMPAH BERGERAK KARENA INSTRUKSI PRESIDEN: WAJAH BIROKRASI TANPA KESADARAN
NU dan Muhammadiyah Bergandengan Tangan Bangun Tubaba Unggul Serta Berkemajuan
Pemotongan Gaji Guru ASN/PPPK: Tak Boleh Main-main dengan Hak yang Dijamin Konstitusi
Peluit di Lumpur: Langkah Tertatih di Balik Kegembiraan Wisata
“2026” Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 21:24 WIB

130 TAHUN TERTIDUR: RATU KOPI ROTTERDAM ITU KINI TELAH KEMBALI

Senin, 14 September 2026 - 06:27 WIB

Ketika Pena Jurnalistik Menjadi Tongkat Pengabdian

Minggu, 28 Juni 2026 - 00:20 WIB

Hijrah Hati, Menguatkan Khidmah, Menebar Cahaya untuk Umat

Selasa, 24 Maret 2026 - 11:15 WIB

Masjid Jami’ Panaragan : Beton Expose Sebagai Simbol Harapan Yang Menyentuh Langit

Sabtu, 7 Februari 2026 - 20:04 WIB

MASALAH SAMPAH BERGERAK KARENA INSTRUKSI PRESIDEN: WAJAH BIROKRASI TANPA KESADARAN

Berita Terbaru