Oleh: Ansyori Ali Akbar
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Jami’ Panaragan
Selasa, | 24.03.2026. | Pukul.08.00.Wib
Di jantung Ibu Kota Kecamatan Tulang Bawang Tengah dan Pusat Pemerintahan Kabupaten Tulang Bawang Barat – sebuah struktur berdiri tegak. Belum sempurna, namun sudah menyandarkan seluruh harapan masyarakat. Ini bukan sekadar bangunan bata dan semen; ini adalah Masjid Jami’ Panaragan, di mana setiap dinding beton expose menyajikan dirinya seperti naskah sejarah yang belum selesai ditulis, serat-serat semennya seperti urat nadi kehidupan yang mengalir, terbuka tanpa pamrih, tanpa selimut cat yang bisa menyembunyikan apa pun.
Bayangkanlah, Anda berdiri di sini menjelang Ramadhan 1447 H, 2026 M, ketika suara adzan meluncur seperti merpati yang mengantar pesan kedamaian di tengah hening malam. Beton yang masih kasar itu menyentuh kulit Anda, dan Anda merasakan, sungguh merasakan, bahwa ini bukan sekadar struktur material. Ia seperti kulit kayu tua yang masih menyimpan aroma hutan belantara, membawa kita kembali ke akar kehidupan yang paling dasar, kejujuran dan kedekatan dengan alam serta Sang Pencipta.
“Beton yang terbuka ini bukan sekadar perakitan material kasar,” Ketika menyaksikan pekerja-pekerja dengan teliti menyusun setiap bagiannya. “Ia adalah benih yang perlahan tapi pasti tumbuh di tengah lautan kehidupan yang penuh lika-liku ,setiap tetesan air beton adalah doa yang mengental, setiap sambungan struktur adalah janji bersama yang tak akan terputus.”
Ketika salat Tarawih pertama kali mengisi ruang ruang Masjid,suasana malamnya begitu tenang hingga Anda bisa merasakan getaran setiap detak hati jamaah. Bulan purnama menyinari hamparan halaman di luar, dan cahayanya menerobos celah-celah struktur yang belum selesai, menciptakan bayangan-bayangan yang seolah bernyanyi bersama irama gerakan shalat. Para jamaah datang bergelombang seperti lebah yang akhirnya menemukan sarang madu setelah musim kemarau panjang. Mereka duduk berjejer di atas lantai beton yang masih kasar, dan Anda merasakan bagaimana setiap tubuh menemukan posisinya dengan tepat – seperti kapal yang menemukan jalur di tengah lautan luas yang tak bertepi.
Saat berbincang dengan sesama pembina masjid, saya tidak bisa tidak terhanyut dalam makna yang lebih dalam: “Kita bagaikan pasir yang tersebar di penjuru alam, tak berarti apa-apa jika sendiri. Tapi ketika berkumpul di bawah bangunan yang masih dalam proses pembangunan ini, kita menjadi hamparan pantai yang indah di setiap butir saling melengkapi, menciptakan tempat yang mampu menyambut ombak kehidupan dengan kuat.”
Kemudian tiba hari raya Idul Fitri 1447 H yang pertama di sini. Anda melihat ratusan wajah berkumpul seperti bintang-bintang yang menghiasi langit malam paling gelap. Ketika tangan-tangan saling bersalaman, Anda merasakan kehangatannya seperti embun pagi yang menyegarkan tanah yang telah kering. Setiap ucapan maaf yang keluar dari bibir adalah seperti air murni yang menyiram lautan kehidupan, menghubungkan hati-hati yang pernah terpisah oleh jarak, waktu, bahkan perbedaan. Di sinilah Anda menyadari di masjid ini sudah hidup jauh sebelum struktur fisiknya selesai.
Seperti pohon yang tumbuh dari biji kecil di tengah padang luas yang terbentang tanpa batas, Masjid Jami’ Panaragan berdiri bukan sebagai mahkota yang sempurna untuk dipamerkan, melainkan sebagai bukti bahwa keindahan sejati hanya bisa ditemukan pada esensi yang tak pernah tersembunyi. Beton expose-nya adalah seperti lembaran hati yang terbuka lebar, tak ada yang disembunyikan, tak ada yang dipalsukan. Lantai yang masih kasar adalah cermin jalan kehidupan kita sendiri: penuh dengan lekukan dan tekstur, namun justru itu yang membuat setiap langkah memiliki makna.
Mungkin suatu hari nanti, ketika semua pekerjaan selesai, lantai akan dipasangi granit yang rata dan mengkilap, dinding akan dihiasi ornamen yang indah dengan detail yang memukau. Tapi saya tahu, dan Anda yang telah merasakan getaran di sini pasti juga tahu, bahwa keindahan paling dalam dari masjid ini sudah ada saat ini. Setiap batu beton bercerita tentang perjuangan yang tak kenal lelah, setiap celah struktur menyimpan doa yang telah terkubur dalam waktu, setiap sentuhan pada permukaan kasar itu adalah kontak langsung dengan jiwa masyarakat yang hidup dan bernapas bersama.
“Beton yang tidak berselimut cat adalah seperti hati yang tidak bersembunyi apa-apa,” dengan keyakinan yang membara di dalam dada. “Ia tidak perlu menutupi diri untuk terlihat megah tapi justru dengan menunjukkan segala yang ada di dalamnya dengan tulus, ia mampu menjemput langit dengan lebih dekat, membawa kita semua pada kedekatan yang hakiki dengan Sang Maha Kuasa.”
Editor : Aan











