Ironi Paripurna: Ketika Cinta Tubaba Hanya Sekadar Fatamorgana

- Jurnalis

Selasa, 7 April 2026 - 22:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansyori Ali Akbar

(Salah satu tokoh pemekaran Tubaba)

Selasa, 7 April 2026

ADVERTISEMENT

Donasi

SCROLL TO RESUME CONTENT

TULANG BAWANG BARAT, LAMPUNG – Hari itu, semestinya ufuk Tubaba memancarkan semarak kebanggaan. Usia ke-17 yang tergapai, sebuah epitom kematangan, kemandirian, dan epik perjalanan panjang yang terlahir dari rahim pemekaran.

Puncak perayaan ini, Tak lain adalah Sidang Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tulang Bawang Barat. Sebuah mimbar yang seharusnya transenden, tempat konvergensi denyut nadi pemerintahan dan aspirasi rakyat, merajut memori masa lalu, lalu menata blueprint masa depan.

Namun, yang terhampar di hadapan kita adalah sebuah ironi yang begitu menyengat. Menusuk sanubari akal sehat, dan mengoyak kohesi kebersamaan. Bayangkan, dari 35 kursi legislatif yang terhormat itu, tercatat 19 di antaranya tak berpenghuni.

Lebih dari separuh! Ini bukan sekadar anomali statistik, melainkan sebuah cermin buram yang merefleksikan kedangkalan “cinta” dan “rasa memiliki” terhadap Tubaba yang selama ini selalu dielu-elukan.

Ketika Ketua DPRD dengan retorika berwibawa membuka sidang, dan Bupati penuh optimisme membentangkan visi, kursi-kursi yang bisu itu justru bersuara lebih nyaring dari segala orasi. Ketiadaan fisik mereka memang kasat mata, namun yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah absennya komitmen moral.

Absennya gratifikasi syukur atas pemekaran yang telah menghantar mereka pada privilege tersebut. Absennya pemahaman substansial akan esensi sebuah momen yang seharusnya sakral.

Dies Natalis ke-17 Tubaba, Angka 17, dalam konteks banyak peradaban, identik dengan momentum kematangan dan gejolak semangat muda yang membara. Di usia ini, Tubaba sepatutnya menemukan pijakan yang lebih kokoh, bukan justru dipertontonkan kerapuhan fondasi dari pilar-pilar pentingnya. Paripurna, yang semestinya menjadi katalisator refleksi dan konsolidasi, justru terdegradasi menjadi lakon inkonsistensi yang menyayat hati.

Mari kita merenung, Tubaba itu tidak eksis begitu saja. Keberadaannya adalah kulminasi dari perjuangan yang tak kenal kompromi. Keringat yang menetes, air mata yang membasahi pelupuk, dan waktu yang tak terhitung jumlahnya telah dikorbankan oleh para arsitek pemekaran.

Baca Juga :  Komisi II DPRD Kabupaten Tulang Bawang Barat Menanggapi Keresahan Para Pendidik atas Pemotongan TPG 100% dan Gaji ke-14

Sebuah proses yang sarat kompleksitas, berliku, penuh intrik dan pengorbanan heroik, hingga akhirnya melahirkan entitas kabupaten yang kini kita diami. Ini adalah sebuah warisan yang terukir dengan darah dan dedikasi, bukan sekadar tinta di atas kertas.

Setiap jengkal tanah Tubaba, seolah menyimpan narasi pilu tentang betapa mahalnya sebuah asa. Sungguh sebuah ironi yang memilukan, bahkan menyedihkan sekali, ketika warisan semulia ini disambut dengan deretan kursi-kursi kosong oleh mereka yang seyogianya menjadi garda terdepan penjaganya.

Dan di sinilah letak puncak ironi yang paling menusuk kalbu: Tanpa perjuangan gigih yang melahirkan Kabupaten Tulang Bawang Barat, kursi DPRD itu mustahil ada. Tidak akan ada 35 ruang kehormatan yang kini memajang kekosongan itu. Mereka menduduki posisi ‘Yang Terhormat’, persis karena entitas Tubaba ini eksis.

Absennya mereka di hari jadi Tubaba bukan lagi perihal mangkir dari agenda rutin, melainkan sebuah penghinaan fundamental terhadap akar eksistensi mereka sendiri. Sebuah penghinaan terhadap “panggung” yang telah dianugerahkan Tubaba. Seolah mengabaikan detak jantung kolektif yang memberi mereka napas kehidupan politik.

Ini bukan lagi soal ‘cinta Tubaba’ sebagai retorika hampa, melainkan ‘cinta’ yang semestinya termanifestasi dalam kesetiaan otentik pada jati diri daerah yang telah memberikan mereka mimbar. Bagaimana bisa seorang representatif rakyat mengklaim mencintai pekerjaannya, jika panggung tempat mereka berkarya, hari kelahirannya, sama sekali tak mereka indahkan.

Ini bukan sekadar ritual seremonial, ini adalah afirmasi identitas kolektif kita sebagai bagian tak terpisahkan dari Tubaba.

Momen HUT ke-17 ini, seharusnya juga menjadi adagium untuk menundukkan kepala. Mengenang dan mempersembahkan tribut penghargaan tertinggi kepada para tokoh pejuang pemekaran. Mereka yang berkorban, yang tak pernah sekalipun menuntut balasan kursi kekuasaan, namun dengan gigih mengukir babak sejarah Tubaba.

Namun, bagaimana mungkin kita dapat menuntut penghormatan terhadap para fundator, jika untuk sekadar hadir dalam ritual sakral peringatan hari jadi saja, para penerus ini justru banyak yang mangkir, Ada apa sebenarnya dengan DPRD Tulang Bawang Barat ini, Apakah kursi-kursi itu terlalu berat bebannya untuk diduduki, ataukah esensi rasa memiliki yang memang sudah terkikis oleh erosi zaman.

Baca Juga :  Bupati Pesisir Barat Umumkan Hasil Seleksi Terbuka JPT Pratama, Pastikan Sesuai Merit Sistem

Pertanyaan ini menggantung, tanpa konklusi pasti, meninggalkan luka yang menganga, membisikkan elegi kekecewaan di setiap simpul kota yang mereka representasikan.

Lalu, bagaimana kita akan mengartikulasikan “cinta Tubaba” di hadapan publik, Bagaimana kita akan terus menggaungkan semangat “pembangunan Tubaba” yang digembar-gemborkan berkelanjutan, berkarakter, dan berakar kuat dalam jiwa masyarakatnya, Sementara para pemangku kebijakan, yang digadang-gadang sebagai lokomotif pembangunan, justru absen di momen yang paling fundamental.

Ini bukan sekadar persoalan disiplin kehadiran. Ini adalah tentang karakter. Ini adalah tentang integritas. Ini adalah tentang rasa kepemilikan yang otentik, bukan sekadar polesan kosmetik. Apakah “cinta Tubaba” yang selama ini kita dengar dan lihat, hanya berupa fatamorgana, Sebuah ilusi visual yang menipu di cakrawala mata, namun sesungguhnya hampa dan tidak benar-benar mengikat dalam sanubari setiap individu yang seharusnya menjadi motor penggerak daerah ini.

Ketidakhadiran 19 anggota DPRD dalam sidang paripurna HUT ke-17 Tubaba adalah sebuah alarm yang nyaring berdentang. Alarm tentang krisis identitas, krisis komitmen, dan krisis rasa memiliki terhadap daerah yang telah membesarkan mereka. Sudah saatnya kita menuntut bukan hanya retorika yang manis di telinga, melainkan aksi nyata yang termanifestasi dari lubuk hati. Bukan lagi sekadar pencitraan yang hampa substansi.

Masyarakat Tubaba berhak mendapatkan lebih dari sekadar janji dan simbolisme. Mereka berhak mendapatkan wakil rakyat yang hadir, berjuang, dan mencintai Tubaba seutuhnya. Bukan hanya di bibir, melainkan di setiap helaan napas dan jejak pengabdian. Semoga peristiwa ini menjadi cambuk. Agar di usia-usia berikutnya, Tubaba benar-benar dirayakan dengan kehormatan dan kebersamaan yang utuh, tanpa cacat sedikit pun.

Editor : Aan

Berita Terkait

Lapas Kalianda Kembangkan Peternakan Ayam Petelur sebagai Sarana Pembinaan Kemandirian Warga Binaan
Pengungkapan Narkotika Meningkat, Sita 79,2 Kg Sabu dan Selamatkan 335.483 Jiwa pada September 2026
Jalan 355 Meter di Desa Kedaton Menuju SMKN 2 Kalianda Akhirnya Mulus Di Cor Beton CV ANJA RAYA
Rawat Tanaman, Panen Hasil Budidaya, Lapas Kalianda Dorong Kemandirian WBP
Ops Antik Krakatau 2026, Polda Lampung Ungkap 379 Kasus Narkoba dan Sita 85,9 Kilogram Sabu
Early Warning System BPBD Lampung Selatan Terhubung dengan Lapas Kalianda, Tingkatkan Respons Menghadapi Gempa dan Tsunami
Mabes TNI Tim V Bersama Satgas Karhutla Kodim 0421LS, Sosialisasikan Pencegahan Karhutla di Desa Kedaton
Tim Mabes TNI Bersama Satgas Karhutla Tim V Kodim 0421/LS,Sosialisasikan Pencegahan Karhutla di Kecamatan Kalianda

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Lapas Kalianda Kembangkan Peternakan Ayam Petelur sebagai Sarana Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:37 WIB

Pengungkapan Narkotika Meningkat, Sita 79,2 Kg Sabu dan Selamatkan 335.483 Jiwa pada September 2026

Selasa, 29 September 2026 - 19:03 WIB

Jalan 355 Meter di Desa Kedaton Menuju SMKN 2 Kalianda Akhirnya Mulus Di Cor Beton CV ANJA RAYA

Senin, 28 September 2026 - 18:14 WIB

Rawat Tanaman, Panen Hasil Budidaya, Lapas Kalianda Dorong Kemandirian WBP

Senin, 28 September 2026 - 18:11 WIB

Ops Antik Krakatau 2026, Polda Lampung Ungkap 379 Kasus Narkoba dan Sita 85,9 Kilogram Sabu

Berita Terbaru