18 November 2025: Milad Muhammadiyah Ke-113 Dalam Bingkai Islam Berkemajuan

- Jurnalis

Senin, 17 November 2025 - 18:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ahmad Basri : Kader Muhammadiyah Tubaba |Senin |17 November 2025: Milad

Muhammadiyah bukan sekadar organisasi kemasyarakatan biasa. Muhammadiyah adalah gerakan pencerahan, gerakan perubahan, dan gerakan kemanusiaan terbesar yang pernah lahir dari bumi Indonesia.

Berdiri pada 18 November 1912 di Kauman, Yogyakarta, sebuah kampung kecil yang kala itu menjadi pusat dinamika pemikiran Islam. Muhammadiyah tumbuh dari gagasan pembaruan KH. Ahmad Dahlan tentang pentingnya Islam yang rasional, berkemajuan, dan relevan dengan tuntutan zaman. Berpegang teguh pada Al Qur’an – As Sunnah.

ADVERTISEMENT

Donasi

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari Selasa, 18 November 2025, Muhammadiyah tepat memasuki usia ke-113 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang menandai keteguhan, konsistensi, serta keluasan amal pengabdian.

Tidak banyak organisasi yang mampu mencapai usia lebih dari satu abad dengan daya hidup yang tetap kuat dan relevansi yang justru semakin meningkat. Muhammadiyah adalah pengecualian besar itu. Muhammadiyah tetap berdiri kokoh hingga saat ini.

Muhammadiyah lahir dari pergulatan seorang ulama bernama Muhammad Darwis yang kemudian dikenal sebagai dengan KH. Ahmad Dahlan. Beliau menyadari bahwa umat Islam saat itu terjebak dalam kejumudan dan kebodohan. Kemiskinan merajalela, pendidikan tertinggal, dan pemahaman agama cenderung ritualistik.

Baca Juga :  Balikin Bansos 41.000 Rekening Untuk Rakyat yang Berhak Menerima

Kini Muhammadiyah hadir dalam wujud yang konkret dan nyata. Lebih dari 170 perguruan tinggi, lebih dari 5.000 sekolah dan madrasah, ratusan rumah sakit, klinik, panti asuhan, panti jompo, layanan kebencanaan, hingga lembaga filantropi raksasa seperti Lazismu

Semuanya adalah bukti bahwa dakwah Muhammadiyah adalah dakwah yang bekerja bukan hanya berbicara. Kontribusi ini adalah manifestasi nyata dari misi Islam Berkemajuan.

Konsep Islam Berkemajuan bukan sekadar jargon. Namun kristalisasi pemikiran Muhammadiyah tentang bagaimana Islam harus menjawab persoalan zaman modern.

Ketika dunia menghadapi krisis ekologi, kemiskinan, intoleransi, dan ketimpangan digital, Islam Berkemajuan tampil sebagai pendekatan yang menggabungkan nilai-nilai keimanan dengan rasionalitas, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab sosial.

Haedar Nashir, Ketua umum PP Muhammadiyah saat ini, dalam banyak pidatonya, menegaskan bahwa tantangan terbesar umat bukan hanya radikalisme, tetapi juga “kemunduran moral, ketidakadilan sosial, dan budaya politik pragmatis.” Karena itu, dakwah harus diterjemahkan dalam bentuk keberpihakan terhadap kaum lemah dan pembebasan dari berbagai belenggu ketidakadilan.

Baca Juga :  Tubaba dalam Bayang Hiburan Malam: Urgensi Zonasi, Legalitas, dan Etika Sosial dalam Perspektif Tata Kota Masa Depan

Dalam kehidupan politik praktis, Muhammadiyah tetap menjaga jarak kritis dari kekuasaan namun tetap berkontribusi konstruktif. Kritiknya halus tetap dilakukan tetapi masuknya santun dan bermartabat. Gerakan ini tidak anti-pemerintah.tetapi anti-kebijakan yang merugikan kepentingan rakyat.

Itulah sebabnya Muhammadiyah dipercaya oleh publik sebagai pelindung moral bangsa. Sebuah moral force yang menjaga arah perjalanan republik dari berbagai persoalan bangsa.Muhammadiyah hadir membawa solusi.

Milad ke-113 ini bukan hanya momentum untuk mengenang sejarah berdirinya Muhammadiyah , namun untuk meneguhkan masa depan.Muhammadiyah bukan organisasi yang hidup dari masa lalu. Muhammadiyah adalah gerakan yang melangkah ke depan dengan optimisme, kerja, dan dedikasi.

Di tengah badai kekacauan moral, ketidakadilan sosial, dan krisis kepemimpinan, Muhammadiyah tetap menjadi tiang penyangga peradaban dan bekerja dalam senyap namun menghasilkan perubahan besar.

Berita Terkait

Peluit di Lumpur: Langkah Tertatih di Balik Kegembiraan Wisata
“2026” Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka
Bisikan Terakhir di Tengah Deru Bencana, Ketika Iman dan Cinta Tak Lekang oleh Maut
Pendidikan Tanpa Hati Nurani , Resep Menuju Kehancuran Peradaban  
Kekuatan Tak Tersusun di Sumsum Tulang Kakek Soleh
DI BALIK GOYANGAN GITAR SPANYOL: KISAH PENYESALAN NYI SINDEN YANG TERTINGGAL DI REL WAKTU
Perjalanan Nasikin di Telapak Tangan Dunia Efisiensi   
Dugaan Mark Up Proyek Pekon Tanjung Heran: Perbuatan Melawan Hukum

Berita Terkait

Kamis, 1 Januari 2026 - 20:45 WIB

Peluit di Lumpur: Langkah Tertatih di Balik Kegembiraan Wisata

Kamis, 1 Januari 2026 - 06:47 WIB

“2026” Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka

Selasa, 9 Desember 2025 - 17:30 WIB

Bisikan Terakhir di Tengah Deru Bencana, Ketika Iman dan Cinta Tak Lekang oleh Maut

Selasa, 9 Desember 2025 - 10:53 WIB

Pendidikan Tanpa Hati Nurani , Resep Menuju Kehancuran Peradaban  

Selasa, 25 November 2025 - 22:32 WIB

Kekuatan Tak Tersusun di Sumsum Tulang Kakek Soleh

Berita Terbaru