Liwa, Seruntingnews.Id – Di tanah yang dikenal sebagai Bumi Sekala Bekhak, masyarakat menyambut salah satu tradisi paling meriah dan sarat makna: Sekura Cakak Buah.
Tradisi ini bukan sekadar pesta rakyat. Ia lahir dari rasa syukur yang dalam, ungkapan bahagia masyarakat setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Ketika gema takbir menyambut 1 Syawal, saat itulah Sekura mulai digelar. Dari hari pertama hingga 7 Syawal, setiap kecamatan hingga pekon-pekon (desa) di Lampung Barat bergantian menghidupkan tradisi ini.
Dari hulu hingga hilir, denyut budaya terasa hidup. Anak-anak berlarian dengan wajah penuh rasa ingin tahu, sementara para pemuda sibuk mengenakan kostum sekura: topeng khas dengan ragam ekspresi, dari yang jenaka hingga yang misterius.
Di balik topeng itu, identitas pribadi melebur, menyisakan satu hal yang sama: kebersamaan.
Di Pekon Luas, Kecamatan Batu Ketulis, keramaian semakin memuncak saat Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, tiba di tengah-tengah masyarakat, Selasa (24/3/2026).
Ia tak datang sekadar sebagai pemimpin daerah, tetapi sebagai bagian dari denyut tradisi itu sendiri.
Dengan senyum hangat, ia menyapa warga, menyaksikan langsung bagaimana sekura bukan hanya pertunjukan, melainkan ruang temu lintas generasi.
“Budaya adalah alat perekat masyarakat,” begitu yang kerap ia sampaikan. Dan hari itu, kata-kata itu menjelma nyata. Orang tua, pemuda, hingga anak-anak larut dalam satu irama yang sama.
Sekura Cakak Buah bukan hanya tentang berebut buah yang digantung tinggi, tetapi tentang semangat gotong royong, kecerdikan, dan kegembiraan yang diwariskan turun-temurun.
Sementara itu, di Pekon Sebarus, Kecamatan Balik Bukit, Wakil Bupati Mad Hasnurin hadir dalam suasana yang tak kalah semarak. Denting musik tradisional berpadu dengan sorak sorai warga yang menanti momen puncak: “cakak buah”.
Mad Hasnurin tampak larut dalam suasana. Ia menyaksikan keunikan bagaimana cara mereka berekspresi dengan topeng penutup wajah.
Di dua tempat berbeda, dalam waktu yang sama, satu pesan mengalir kuat: budaya bukan sekadar warisan, tetapi identitas yang harus dijaga dengan kesungguhan.
Sekura sendiri bukan hanya topeng. Ia adalah simbol keterbukaan. Dalam balutan kostum sederhana hingga unik, setiap orang bebas mengekspresikan diri tanpa sekat status sosial. Di balik topeng, semua setara. Itulah filosofi yang mengakar kuat di masyarakat Lampung Barat.
Tradisi ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang kesinambungan, tentang bagaimana generasi hari ini memastikan bahwa anak cucu mereka kelak masih bisa merasakan hal yang sama.
Selama tujuh hari penuh, dari 1 hingga 7 Syawal, semangat itu berkeliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain.
Sekura menjadi jembatan, menghubungkan desa-desa, mempererat persaudaraan, sekaligus meneguhkan jati diri Lampung Barat sebagai tanah yang kaya akan budaya.
Langkah Parosil dan Mad Hasnurin menghadiri pesta sekura di dua pekon berbeda, itu adalah bukti nyata kesungguhan pemerintah daerah dalam merawat budaya sebagai identitas.
Di Bumi Sekala Bekhak, Sekura Cakak Buah terus hidup. Ia bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga harapan masa depan: bahwa di tengah arus zaman yang terus berubah, ada nilai-nilai yang tetap teguh berdiri.
Dan selama gema Syawal masih berkumandang, selama topeng sekura masih dikenakan, budaya itu akan terus bernapas.
Perkuat Identitas Budaya, Parosil – Mad Hasnurin Hadiri Pesta Sekura di Tempat Berbeda
Di tanah yang dikenal sebagai Bumi Sekala Bekhak, masyarakat menyambut salah satu tradisi paling meriah dan sarat makna: Sekura Cakak Buah.
Tradisi ini bukan sekadar pesta rakyat. Ia lahir dari rasa syukur yang dalam, ungkapan bahagia masyarakat setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Ketika gema takbir menyambut 1 Syawal, saat itulah Sekura mulai digelar. Dari hari pertama hingga 7 Syawal, setiap kecamatan hingga pekon-pekon (desa) di Lampung Barat bergantian menghidupkan tradisi ini.
Dari hulu hingga hilir, denyut budaya terasa hidup. Anak-anak berlarian dengan wajah penuh rasa ingin tahu, sementara para pemuda sibuk mengenakan kostum sekura: topeng khas dengan ragam ekspresi, dari yang jenaka hingga yang misterius.
Di balik topeng itu, identitas pribadi melebur, menyisakan satu hal yang sama: kebersamaan.
Di Pekon Luas, Kecamatan Batu Ketulis, keramaian semakin memuncak saat Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, tiba di tengah-tengah masyarakat, Selasa (24/3/2026).
Ia tak datang sekadar sebagai pemimpin daerah, tetapi sebagai bagian dari denyut tradisi itu sendiri.
Dengan senyum hangat, ia menyapa warga, menyaksikan langsung bagaimana sekura bukan hanya pertunjukan, melainkan ruang temu lintas generasi.
“Budaya adalah alat perekat masyarakat,” begitu yang kerap ia sampaikan. Dan hari itu, kata-kata itu menjelma nyata. Orang tua, pemuda, hingga anak-anak larut dalam satu irama yang sama.
Sekura Cakak Buah bukan hanya tentang berebut buah yang digantung tinggi, tetapi tentang semangat gotong royong, kecerdikan, dan kegembiraan yang diwariskan turun-temurun.
Sementara itu, di Pekon Sebarus, Kecamatan Balik Bukit, Wakil Bupati Mad Hasnurin hadir dalam suasana yang tak kalah semarak. Denting musik tradisional berpadu dengan sorak sorai warga yang menanti momen puncak: “cakak buah”.
Mad Hasnurin tampak larut dalam suasana. Ia menyaksikan keunikan bagaimana cara mereka berekspresi dengan topeng penutup wajah.
Di dua tempat berbeda, dalam waktu yang sama, satu pesan mengalir kuat: budaya bukan sekadar warisan, tetapi identitas yang harus dijaga dengan kesungguhan.
Sekura sendiri bukan hanya topeng. Ia adalah simbol keterbukaan. Dalam balutan kostum sederhana hingga unik, setiap orang bebas mengekspresikan diri tanpa sekat status sosial. Di balik topeng, semua setara. Itulah filosofi yang mengakar kuat di masyarakat Lampung Barat.
Tradisi ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang kesinambungan, tentang bagaimana generasi hari ini memastikan bahwa anak cucu mereka kelak masih bisa merasakan hal yang sama.
Selama tujuh hari penuh, dari 1 hingga 7 Syawal, semangat itu berkeliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain.
Sekura menjadi jembatan, menghubungkan desa-desa, mempererat persaudaraan, sekaligus meneguhkan jati diri Lampung Barat sebagai tanah yang kaya akan budaya.
Langkah Parosil dan Mad Hasnurin menghadiri pesta sekura di dua pekon berbeda, itu adalah bukti nyata kesungguhan pemerintah daerah dalam merawat budaya sebagai identitas.
Di Bumi Sekala Bekhak, Sekura Cakak Buah terus hidup. Ia bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga harapan masa depan: bahwa di tengah arus zaman yang terus berubah, ada nilai-nilai yang tetap teguh berdiri.
Dan selama gema Syawal masih berkumandang, selama topeng sekura masih dikenakan, budaya itu akan terus bernapas.Perkuat Identitas Budaya, Parosil – Mad Hasnurin Hadiri Pesta Sekura di Tempat Berbeda
Di tanah yang dikenal sebagai Bumi Sekala Bekhak, masyarakat menyambut salah satu tradisi paling meriah dan sarat makna: Sekura Cakak Buah.
Tradisi ini bukan sekadar pesta rakyat. Ia lahir dari rasa syukur yang dalam, ungkapan bahagia masyarakat setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Ketika gema takbir menyambut 1 Syawal, saat itulah Sekura mulai digelar. Dari hari pertama hingga 7 Syawal, setiap kecamatan hingga pekon-pekon (desa) di Lampung Barat bergantian menghidupkan tradisi ini.
Dari hulu hingga hilir, denyut budaya terasa hidup. Anak-anak berlarian dengan wajah penuh rasa ingin tahu, sementara para pemuda sibuk mengenakan kostum sekura: topeng khas dengan ragam ekspresi, dari yang jenaka hingga yang misterius.
Di balik topeng itu, identitas pribadi melebur, menyisakan satu hal yang sama: kebersamaan.
Di Pekon Luas, Kecamatan Batu Ketulis, keramaian semakin memuncak saat Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, tiba di tengah-tengah masyarakat, Selasa (24/3/2026).
Ia tak datang sekadar sebagai pemimpin daerah, tetapi sebagai bagian dari denyut tradisi itu sendiri.
Dengan senyum hangat, ia menyapa warga, menyaksikan langsung bagaimana sekura bukan hanya pertunjukan, melainkan ruang temu lintas generasi.
“Budaya adalah alat perekat masyarakat,” begitu yang kerap ia sampaikan. Dan hari itu, kata-kata itu menjelma nyata. Orang tua, pemuda, hingga anak-anak larut dalam satu irama yang sama.
Sekura Cakak Buah bukan hanya tentang berebut buah yang digantung tinggi, tetapi tentang semangat gotong royong, kecerdikan, dan kegembiraan yang diwariskan turun-temurun.
Sementara itu, di Pekon Sebarus, Kecamatan Balik Bukit, Wakil Bupati Mad Hasnurin hadir dalam suasana yang tak kalah semarak. Denting musik tradisional berpadu dengan sorak sorai warga yang menanti momen puncak: “cakak buah”.
Mad Hasnurin tampak larut dalam suasana. Ia menyaksikan keunikan bagaimana cara mereka berekspresi dengan topeng penutup wajah.
Di dua tempat berbeda, dalam waktu yang sama, satu pesan mengalir kuat: budaya bukan sekadar warisan, tetapi identitas yang harus dijaga dengan kesungguhan.
Sekura sendiri bukan hanya topeng. Ia adalah simbol keterbukaan. Dalam balutan kostum sederhana hingga unik, setiap orang bebas mengekspresikan diri tanpa sekat status sosial. Di balik topeng, semua setara. Itulah filosofi yang mengakar kuat di masyarakat Lampung Barat.
Tradisi ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang kesinambungan, tentang bagaimana generasi hari ini memastikan bahwa anak cucu mereka kelak masih bisa merasakan hal yang sama.
Selama tujuh hari penuh, dari 1 hingga 7 Syawal, semangat itu berkeliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain
Sekura menjadi jembatan, menghubungkan desa-desa, mempererat persaudaraan, sekaligus meneguhkan jati diri Lampung Barat sebagai tanah yang kaya akan budaya.
Langkah Parosil dan Mad Hasnurin menghadiri pesta sekura di dua pekon berbeda, itu adalah bukti nyata kesungguhan pemerintah daerah dalam merawat budaya sebagai identitas.
Di Bumi Sekala Bekhak, Sekura Cakak Buah terus hidup. Ia bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga harapan masa depan: bahwa di tengah arus zaman yang terus berubah, ada nilai-nilai yang tetap teguh berdiri.
Dan selama gema Syawal masih berkumandang, selama topeng sekura masih dikenakan, budaya itu akan terus bernapas. (*)
Editor : Azam











