Pendidikan Tanpa Hati Nurani , Resep Menuju Kehancuran Peradaban  

- Jurnalis

Selasa, 9 Desember 2025 - 10:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ansyori Ali Akbar ( Jurnalis) | Selasa.9.12.2025

Di tengah gemerlap kemajuan zaman, teknologi dan informasi, kita sering lupa akan fondasi utama yang harus menopang peradaban hati nurani. Pendidikan, yang seharusnya menjadi pilar utama pembentukan karakter mendalam, kini justru terancam menjadi mesin pencetak intelektual tanpa moral. Ironisnya, sekolah-sekolah tinggi yang megah dan mewah, alih-alih melahirkan generasi penerus bangsa yang bijaksana, malah menghasilkan individu-individu yang piawai merusak tatanan kehidupan.

Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan, “Kalau sekolah tinggi hanya menghasilkan bangsat-bangsat saja, ya akan runtuhlah peradaban manusia ini.” Kata-kata ini terasa semakin relevan di era ketika gelar sarjana seolah menjadi jaminan kesuksesan, tanpa mempedulikan integritas dan etika.

Kita menyaksikan bagaimana para “intelektual” korup dengan mudahnya menilap uang rakyat, para ahli hukum yang menjual keadilan demi kepentingan pribadi, dan para pemimpin yang berkhianat pada amanah yang diberikan. Mereka adalah produk dari sistem pendidikan yang hanya menekankan pada aspek kognitif, tanpa mengindahkan pentingnya pendidikan moral dan spiritual.

Pendidikan sejati seharusnya mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan kepekaan sosial. Ia harus mampu menumbuhkan rasa empati, tanggung jawab, dan cinta kasih terhadap sesama. Jika tidak, maka yang lahir hanyalah generasi yang egois, individualistis, dan haus akan kekuasaan.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita berbenah diri. Kita harus merevolusi sistem pendidikan kita, dengan menempatkan pendidikan karakter sebagai prioritas utama. Kita harus menanamkan nilai-nilai luhur bangsa, seperti kejujuran, gotong royong, dan toleransi sejak dini. Dengan begitu, kita berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki hati nurani yang bersih dan jiwa yang besar.

Baca Juga :  DI BALIK GOYANGAN GITAR SPANYOL: KISAH PENYESALAN NYI SINDEN YANG TERTINGGAL DI REL WAKTU

Jika kita gagal melakukan ini, maka kita hanya akan mempercepat kehancuran peradaban kita sendiri. Sebuah peradaban yang dibangun di atas fondasi ketidakadilan, keserakahan, dan kebohongan tidak akan pernah bertahan lama.

Semoga kita semua, sebagai bagian dari bangsa ini, dapat mengambil hikmah dari renungan ini. Mari kita bersama-sama membangun pendidikan yang berkeadilan, berkeadaban, dan berkesinambungan

Editor : A. Ali Akbar

Berita Terkait

MASALAH SAMPAH BERGERAK KARENA INSTRUKSI PRESIDEN: WAJAH BIROKRASI TANPA KESADARAN
NU dan Muhammadiyah Bergandengan Tangan Bangun Tubaba Unggul Serta Berkemajuan
Pemotongan Gaji Guru ASN/PPPK: Tak Boleh Main-main dengan Hak yang Dijamin Konstitusi
Peluit di Lumpur: Langkah Tertatih di Balik Kegembiraan Wisata
“2026” Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka
Bisikan Terakhir di Tengah Deru Bencana, Ketika Iman dan Cinta Tak Lekang oleh Maut
Kekuatan Tak Tersusun di Sumsum Tulang Kakek Soleh
DI BALIK GOYANGAN GITAR SPANYOL: KISAH PENYESALAN NYI SINDEN YANG TERTINGGAL DI REL WAKTU

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 20:04 WIB

MASALAH SAMPAH BERGERAK KARENA INSTRUKSI PRESIDEN: WAJAH BIROKRASI TANPA KESADARAN

Sabtu, 31 Januari 2026 - 17:34 WIB

NU dan Muhammadiyah Bergandengan Tangan Bangun Tubaba Unggul Serta Berkemajuan

Sabtu, 24 Januari 2026 - 18:04 WIB

Pemotongan Gaji Guru ASN/PPPK: Tak Boleh Main-main dengan Hak yang Dijamin Konstitusi

Kamis, 1 Januari 2026 - 20:45 WIB

Peluit di Lumpur: Langkah Tertatih di Balik Kegembiraan Wisata

Kamis, 1 Januari 2026 - 06:47 WIB

“2026” Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka

Berita Terbaru

Bandar Lampung

Tetap Fokus di Jalan Saat Puasa, Ini Kiat Aman dari Polda Lampung*

Selasa, 24 Feb 2026 - 21:58 WIB