Oleh : Ansyori Ali Akbar ( Jurnalis) | Selasa.9.12.2025
Di tengah gemerlap kemajuan zaman, teknologi dan informasi, kita sering lupa akan fondasi utama yang harus menopang peradaban hati nurani. Pendidikan, yang seharusnya menjadi pilar utama pembentukan karakter mendalam, kini justru terancam menjadi mesin pencetak intelektual tanpa moral. Ironisnya, sekolah-sekolah tinggi yang megah dan mewah, alih-alih melahirkan generasi penerus bangsa yang bijaksana, malah menghasilkan individu-individu yang piawai merusak tatanan kehidupan.
Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan, “Kalau sekolah tinggi hanya menghasilkan bangsat-bangsat saja, ya akan runtuhlah peradaban manusia ini.” Kata-kata ini terasa semakin relevan di era ketika gelar sarjana seolah menjadi jaminan kesuksesan, tanpa mempedulikan integritas dan etika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kita menyaksikan bagaimana para “intelektual” korup dengan mudahnya menilap uang rakyat, para ahli hukum yang menjual keadilan demi kepentingan pribadi, dan para pemimpin yang berkhianat pada amanah yang diberikan. Mereka adalah produk dari sistem pendidikan yang hanya menekankan pada aspek kognitif, tanpa mengindahkan pentingnya pendidikan moral dan spiritual.
Pendidikan sejati seharusnya mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan kepekaan sosial. Ia harus mampu menumbuhkan rasa empati, tanggung jawab, dan cinta kasih terhadap sesama. Jika tidak, maka yang lahir hanyalah generasi yang egois, individualistis, dan haus akan kekuasaan.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita berbenah diri. Kita harus merevolusi sistem pendidikan kita, dengan menempatkan pendidikan karakter sebagai prioritas utama. Kita harus menanamkan nilai-nilai luhur bangsa, seperti kejujuran, gotong royong, dan toleransi sejak dini. Dengan begitu, kita berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki hati nurani yang bersih dan jiwa yang besar.
Jika kita gagal melakukan ini, maka kita hanya akan mempercepat kehancuran peradaban kita sendiri. Sebuah peradaban yang dibangun di atas fondasi ketidakadilan, keserakahan, dan kebohongan tidak akan pernah bertahan lama.
Semoga kita semua, sebagai bagian dari bangsa ini, dapat mengambil hikmah dari renungan ini. Mari kita bersama-sama membangun pendidikan yang berkeadilan, berkeadaban, dan berkesinambungan
Editor : A. Ali Akbar












