Oleh Ansyori Ali Akbar, (Pengamat sosial & jurnalis naratif kemanusiaan)
Pukul 07.30–15.45 WIB, Kawasan Parkir di Pinggir Salah Satu Tempat Wisata Kabupaten Tulang Bawang Barat
Peluit di saku Yanto adalah jam kehidupan yang berdetak pelan, bunyi kriiing… kriiing-nya seperti napas tertahan di antara dingin dan harap. Tubuhnya pernah disergap stroke, jadi setiap langkah bergerak dengan gemetar, kaki tertatih di aspal panas yang bercampur lumpur sisa hujan. Lalu lintas kendaraan mengalir seperti sungai yang tak peduli batu penghalang; di kejauhan, suara tawa dan aroma makanan wisata menandakan hari libur bagi banyak orang, tapi hari kerja bagi Yanto.
“Semoga hari ini ada rezeki lebih,” doa yang berdiam di dada Yanto. Seorang pengunjung berpakaian cerah seperti matahari pagi turun dari mobil; dia membuka pintu dengan senyum paksa seperti kertas aus. Uang yang diterima terasa hangat namun berat—untuk beras, minyak, dan obat.
Tak jarang datang orang yang membentak seperti guntur karena arah parkir salah. Yanto menunduk, diam menjadi pelindungnya; bekas luka di pipinya mengingatkan pada kekerasan yang pernah terjadi. Ruang parkir adalah tempat konflik tanpa perlindungan untuknya.
Di tengah hari yang kian terik, Langit anak yang pernah patah kaki melangkah perlahan seperti burung baru belajar terbang, membantu Yanto mengatur kendaraan. Di sisinya, Bisu berkomunikasi dengan isyarat; bekas luka di keningnya adalah jejak kekerasan, tapi senyumnya tetap seperti cahaya samar di hari terik.
Hari berjalan dengan rupiah yang terkumpul di tangan Yanto seperti butir pasir. Kegembiraan pengunjung terhalang seperti kain tirai, dan anak-anak Yanto di rumah terbayang seperti burung yang melihat langit dari sangkar. Kawasan ini bukan tempat rekreasi, melainkan medan kerja untuk menyambung hidup.
Menjelang pukul 15.45, kendaraan mulai surut seperti pasang surut laut. Peluit Yanto diam, uang dihitung dengan jari yang gemetar seperti cara-cara kayu tua, kaki masih kotor lumpur. Hanya lega tipis hari ini berhasil bertahan.
Peluit Yanto akan kembali berbunyi esok pagi, mengiris udara pagi yang sama di pinggir wisata Kabupaten Tulang Bawang Barat. Bunyinya bukan hanya panggilan untuk parkir, tetapi suara bisu dari tanah lumpur: permintaan agar kegembiraan wisata tidak melupakan langkah-langkah tertatih di baliknya,sunyi, rapuh, tapi gigih menopang hari demi hari.
Editor : A. Ali Akbar












