Oleh : Ansyori Ali Akbar | Selasa.25.11.2025
(Penikmat Kopi Tanpa Gula)
(Hari Selasa, pagi hari yang embun dingin. Saya berdiri di tepi sawah, menyaksikan seorang sosok yang bungkuk tapi tegas menggerakkan badannya. Pemandangan ini saya temukan di sebuah perkampungan nan jauh di sana, di wilayah bernama Pekon Kubu Perahu, Lampung Barat.)
Dia bernama Kakek Soleh. Di usianya yang ke-82 tahun, rambutnya sudah putih seperti salju yang menumpuk di puncak gunung, dan tulang belakangnya membentuk lengkungan yang seolah-olah ingin melindungi apa yang ada di depannya.
Setiap langkahnya terasa teetatih-tatih seperti roda tua yang masih berputar meskipun porinya sudah aus. Tapi ketika dia membungkuk, mengelilingi batu besar yang beratnya tak terkira, saya melihat sesuatu yang tak terduga.
Tangannya yang keriput, penuh bekas luka dan keringat, memegang gagang ember dengan kuat. Dia menarik napas dalam-dalam suaranya seperti angin yang melewati celah batuan lalu hempas badannya ke depan. Batu itu terangkat sedikit, lalu dia memutar badannya, memindahkannya ke tempat yang sudah ditentukan. Kerja berat. Dari pagi sampai sore. Tanpa jeda. Tanpa mengeluh.
Orang di sekitar sering berkata, “Kakek Soleh udah tua, seharusnya istirahat.” Tapi dia hanya tersenyum, air mata keringnya menyala seperti bintang di malam yang gelap. “Kalau istirahat, hati saya akan bengkak,” katanya sekali. “Batu ini butuh saya, dan saya butuh dia untuk ingat bahwa saya masih hidup.”
Konon, Kakek Soleh pernah kehilangan segalanya akibat banjir bandang yang melanda Pekon Kubu Perahu beberapa tahun silam. Namun, ia bangkit kembali, membangun rumahnya dari nol, dan terus bekerja keras demi keluarganya. Mungkin, batu-batu itu adalah simbol dari beban hidup yang pernah ia pikul, dan setiap angkatannya adalah kemenangan atas masa lalu.
Saya melihatnya bekerja sampai matahari terbenam. Badannya penuh keringat, pakaiannya basah meresap, tapi posturnya meskipun bungkuk tetap gagah. Seolah-olah usianya bukan halangan, melainkan pijakan yang membuat kekuatannya lebih dalam. Dia tidak mengenal lelah, karena lelah itu hanyalah kata untuk mereka yang lupa akan alasan hidup.
Di wajah Kakek Soleh, saya membaca peta kehidupan garis-garis kerutan yang menceritakan kisah perjuangan, kebahagiaan, dan kehilangan. Matanya adalah jendela menuju jiwa yang penuh dengan kearifan seperti sumur tua yang menyimpan air jernih.
(Malam hari, saya menulis ini sambil merasakan hembusan angin. Kakek Soleh sudah pulang, tapi bayangan kekuatannya masih terasa di sawah yang sunyi di Pekon Kubu Perahu.)
Kekuatan Kakek Soleh bukan hanya tentang otot dan tulang, tapi tentang semangat yang tak lekang oleh waktu. Dia mengajarkan bahwa usia bukanlah garis akhir, melainkan babak baru untuk menemukan makna yang lebih dalam. Mungkin, kita semua perlu batu kita sendiri sesuatu yang menantang, yang membuat kita merasa hidup, di mana pun kita berada, bahkan di perkampungan terpencil seperti Pekon Kubu Perahu.
Editor : Aan












