DI BALIK GOYANGAN GITAR SPANYOL: KISAH PENYESALAN NYI SINDEN YANG TERTINGGAL DI REL WAKTU

- Jurnalis

Minggu, 23 November 2025 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ansyori Ali Akbar ( Jurnalis ) Minggu|23/11/2025)

(Pengamat yang Menyerap Semua Air Mata )

Matahari mulai tenggelam, cahayanya menyebar seperti selaput darah di atap pondok kecil yang aus di pinggiran kota. Di situ, Nyi Siti yang dulu disapa Nyi Sinden, sang ratu keroncong yang pernah membuat seluruh kota melayang duduk sendirian. Tangan kusamnya memegang sehelai kain batik lusuh, seperti ingatan masa muda yang terbelah dua, sambil mendengar lagu Jembatan Merah dari radio jadul yang bunyinya seperti tangisan tercekik.

ADVERTISEMENT

Donasi

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rambutnya yang dulu hitam sejuk seperti malam tanpa awan, kini putih seperti abu; di antara keriput yang menutupi wajah, bekas keindahan hanya seperti bayangan hantu yang tak terjangkau. Dia pernah diibaratkan bidadari turun bumi butuh berapa tahun lamanya dia menyadari, dia hanyalah burung yang sayapnya terpotong, terbang tidak jauh sebelum jatuh ke tanah kering.

Sit, boleh saya dengar ceritamu?” Ucap ku dengan lembut.

Saya berbicara dengan suara hampir tidak terdengar takut mengganggu keheningan yang lebih tebal dari malam. Dia mengangguk, matanya tidak melihat saya, melainkan ke kejauhan seolah mencari jalan pulang yang hilang sejak lama.

“Sudah lama… tidak ada yang mau mendengar,” katanya, dan saya melihat air mata mulai menggenangi sudut matanya. Mata yang dulu cerah seperti bintang puasa, kini penuh penyesalan sekeras batu beban yang dia bawa setiap hari, semakin berat sampai tulangnya mulai patah di dalam.

Di tahun 70-an, nama Nyi Sinden adalah legenda yang terukir di setiap hati—seperti luka yang indah tapi menyakitkan. Setiap kali dia naik panggung, penonton berdesakan seperti orang lapar mencari makanan; semua mata hanya pada dia.

Goyangan tubuhnya melengkung sempurna seperti gitar Spanyol yang dipetik dengan kasih sayang—badannya adalah senar-senar yang menghasilkan nada-nada indah yang membuat hati berdebar sampai lupa bernapas. “Saya ingat… setiap kali saya nyanyi Bengawan Solo, seluruh ruangan sunyi,” katanya, nadanya sedikit bergetar. “Hanya suara saya yang terdengar seperti ombak yang menyapu pantai, menghapus semua jejak.

Orang kata suara saya bagus banget… bahkan bilang saya ngetop seantero pulau Jawa seperti bunga melati yang wangi sampai ke langit.”

Keindahannya yang antik dan kemampuannya yang hebat membuatnya laris di setiap pesta—seperti beras baru panen, semua orang berebut. Pria datang dengan hadiah mahal: rantai emas, bunga mawar segar, tawaran kerja menggiurkan semua hanya untuk mendapatkan senyumnya. “Saya merasa seperti ratu,” ujarnya, mengusap air mata yang menetes ke pipi.

“Ratu yang berdiri di atas panggung emas… tapi saya lupa, panggung itu hanya dibangun dari pasir. Semua orang memujiku, menyayangiku saya pikir hidup akan selalu begitu: penuh kemegahan dan pilihan seperti taman yang selalu ada bunga baru mekar. Tapi ternyata, itu hanya mimpi yang terbangun ketika matahari terbit.”

Baca Juga :  Gelombang Protes Guncang Tubaba: Wartawan Pertanyakan Misteri Anggaran Kominfo

 

Karena terlalu banyak pilihan, Nyi Siti mulai memilih tanpa berpikir seperti anak di toko permen, terlalu ragu sampai semua permen meleleh di tangan, hancur dan tak bisa dimakan. Ada Pak Slamet, pedagang jujur dan penuh kasih dia selalu menunggu dia selesai tampil, membawakan bubur ayam hangat seperti api di malam dingin.

Tapi dia tolak: “Dia terlalu sederhana… tidak cocok dengan saya yang sinden terkenal seperti sepatu karet yang tak pantas dipakai dengan gaun pesta.” Lalu ada Pak Johan, dokter muda pintar dan kaya dia selalu menawarkan bantuan, tapi dia tolak: “Dia terlalu sibuk… tidak akan punya waktu untuk saya seperti jam yang selalu berjalan, tak pernah berhenti melihat apa di sekitar.”

Ada juga Pak Adi, penyanyi keroncong yang suara nya sama merdu seperti dia. Mereka tampil bersama, banyak orang bilang mereka pasangan sempurna seperti dua senar gitar yang saling melengkapi, menghasilkan nada sempurna. “Saya suka dia,” katanya, menangis lebih keras.

“Tapi saya merasa ada yang lebih baik lagi seperti orang yang mencari matahari, tapi tidak menyadari bulan juga bisa menerangi malam. Saya terus menunggu… terus memilih… sampai akhirnya… tidak ada yang tersisa seperti ladang yang sudah dipetik habis, hanya tinggallah rerumputan kering yang hanyut tertiup angin.”

Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Suara nya yang dulu merdu mulai memudar seperti aliran sungai yang kering karena kemarau abadi. Keindahan masa muda perlahan hilang seperti bunga yang mekar sempurna, tapi perlahan layu dan gugur ke tanah, hancur jadi debu. Pesta yang dulu mengundangnya mulai hilang seperti awan yang pergi setelah hujan. Pria yang dulu mengaguminya mulai pergi seperti burung yang meninggalkan sarang lama untuk mencari pohon baru yang lebih rindang. Dia ditinggalkan sendirian dengan hanya ingatan dan penyesalan yang mengikutinya.

Sampai suatu hari, dia melihat cermin dan menyadari dia sudah tua. Sangat tua. Dia melihat teman-temannya yang dulu sama-sama sinden: sudah menikah, punya anak dan cucu yang menyayanginya seperti pohon yang penuh buah, hidupnya penuh makna. Sementara dia… hanya sendirian di pondok kecil itu seperti pulau yang terpisah dari daratan, terasing dan sunyi.

“Saya menjadi perawan tua yang tidak punya apa-apa,” katanya, terisak-isak sampai tubuhnya bergoyang. “Seperti rumah yang kosong tanpa suara, tanpa kehangatan, hanya angin dingin yang masuk dari celah-celah dinding.”

Baca Juga :  Wakil Bupati Tubaba Buka Pelatihan Siaga Bencana Sekolah PMR Tingkat Madya dan Wira

“Setiap malam, saya berdiri di depan cermin… melihat wajah saya yang sudah tua… dan bertanya: ‘Mengapa saya dulu begitu sombong? Mengapa saya terlalu pilih-pilih?’ Sekarang… hanya ada sunyi dan penyesalan yang mengikut saya kemana-mana seperti bayangan yang tidak pernah hilang, meskipun matahari terbit sebesar apa pun.

” Dia memberitahu saya, ada kalinya dia ingin bunuh diri seperti burung yang ingin memutus sayapnya agar tidak perlu lagi terbang di langit yang kosong. Tapi kata ibunya yang dulu katakan tetap terngiang: “Hidup itu berharga… walau penuh kesulitan.” Meskipun begitu, kesendiriannya tetap menyakitkan. Dia hidup terlunta-lunta tanpa arah, tanpa tujuan, hanya mengikuti aliran waktu yang membawanya ke tempat yang tidak dia inginkan.

Saat matahari benar-benar tenggelam, dan kegelapan menyelimuti semuanya, Nyi Siti memegang foto diri dia ketika masih muda. Di foto itu, dia berdiri dengan pakaian batik cantik, senyum lebar, mata cerah dan penuh harapan. “Ini adalah saya yang dulu,” katanya, suaranya seperti bisikan angin.

“Saya harap dia bisa tahu… betapa menyesal saya atas semua yang sudah saya lakukan. Saya harap dia tidak seperti saya yang terlalu lambat menyadari, bahwa yang berharga bukanlah pilihan yang banyak… tapi seseorang yang mau berdiri bersamamu, bahkan ketika semua orang sudah pergi.”

Dia meletakkan foto itu di mejanya, lalu memandang ke langit yang penuh bintang. “Saya berdoa… semoga orang lain tidak mengulangi kesalahan saya,” katanya, air mata menetes tanpa henti, mencairkan lapisan debu di wajahnya. “Jangan terlalu sombong karena keindahan atau keberhasilan. Jangan terlalu pilih-pilih sampai terlambat. Karena waktu… waktu adalah pemukul yang paling keras.dia akan memukulmu sampai kamu patah, dan yang tersisa hanyalah penyesalan yang abadi.”

Saya berdiri dan beranjak pergi, tapi hati saya tetap ada di sana bersama Nyi Siti yang sendirian. Di jalan pulang, saya menangis. Tidak karena rasa kasihan semata tapi karena saya menyadari, kadang kita semua seperti dia: terlalu sibuk mengejar bunga yang mekar di kejauhan, sampai terlambat menyadari bahwa bunga yang paling indah sudah ada di depan mata hanya kita yang terlalu buta untuk melihatnya.

Bunyi keroncong dari radio jadulnya masih terdengar di kejauhan seperti lagu kesedihan yang menceritakan kisah seorang wanita yang terlunta lunta di rel waktu, karena pilihan pilih yang salah dan kesombongan yang membutakan.

Editor : Aan

Berita Terkait

Perkuat Layanan Kesehatan Anak, Bupati Tubaba Gandeng Yayasan Bussaina Tangani Pasien Jantung Bawaan
Peluit di Lumpur: Langkah Tertatih di Balik Kegembiraan Wisata
Doa Bersama Lintas Agama, Polres Tulang Bawang Barat Wujudkan Harmoni dan Solidaritas untuk Sumatera Bangkit
“2026” Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka
WABUP NADIRSYAH SERAHKAN SK 2.227 PPPK PARUH WAKTU:JADIKAN INOVASI BUDAYA KERJA
Tiyuh Agung Jaya sukses Realisasikan Dana Desa TA. 2025.
Tiyuh Sakti Jaya Realisasikan Dana Desa 2025 Rp863 Juta untuk Pembangunan Beragam Sektor
Polisi Amankan Oknum Wartawan di Tulang Bawang Barat Terkait Penyalahgunaan Narkotika Sabu
"Di pinggiran desa terpencil Lampung, di bawah bayangan hutan karet yang tua, Siti menyimpan kesedihan yang mengganjal. Cerita jurnal yang akan membuatmu terhanyut dan merasakan kepedihan yang tulus—tempat di mana sunyi berbicara lebih keras dari kata-kata."

Berita Terkait

Selasa, 6 Januari 2026 - 19:12 WIB

Perkuat Layanan Kesehatan Anak, Bupati Tubaba Gandeng Yayasan Bussaina Tangani Pasien Jantung Bawaan

Kamis, 1 Januari 2026 - 20:45 WIB

Peluit di Lumpur: Langkah Tertatih di Balik Kegembiraan Wisata

Kamis, 1 Januari 2026 - 09:53 WIB

Doa Bersama Lintas Agama, Polres Tulang Bawang Barat Wujudkan Harmoni dan Solidaritas untuk Sumatera Bangkit

Kamis, 1 Januari 2026 - 06:47 WIB

“2026” Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka

Rabu, 31 Desember 2025 - 12:19 WIB

WABUP NADIRSYAH SERAHKAN SK 2.227 PPPK PARUH WAKTU:JADIKAN INOVASI BUDAYA KERJA

Berita Terbaru