Oleh : Ansyori Ali Akbar | Selasa.9.12.2025 ( Jurnalis )
Di antara puing dan lumpur yang mengotori bumi, terukir kisah-kisah pilu yang tak terbayangkan. Aceh, Sumatera Utara, dan Padang, tiga nama yang kini menjadi saksi bisu dari dahsyatnya amukan alam. Dulu, di sana, kehidupan adalah harmoni antara manusia dan alam, antara doa dan usaha. Namun, dalam sekejap, harmoni itu pecah berkeping-keping, meninggalkan luka yang menganga di hati setiap insan.
Banjir datang seperti malaikat maut yang mencabut nyawa tanpa pandang bulu, merenggut kebahagiaan, mencuri harapan, dan meninggalkan kesedihan yang tak terperi. Di tengah arus yang ganas, kita menemukan wajah-wajah bukan lagi sekadar wajah, tetapi potret-potret terakhir dari kehidupan yang terenggut. Wajah-wajah yang dulu penuh semangat, kini memancarkan kedamaian abadi. Mata mereka terpejam rapat, seolah tengah bermimpi tentang surga yang abadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di antara timbunan lumpur dan puing-puing, ditemukan seorang wanita yang masih mengenakan mukena, kedua tangannya menengadah ke langit, seolah tengah berdoa memohon ampunan dan pertolongan kepada Allah SWT. Meskipun maut telah menjemput, imannya tetap teguh, cintanya kepada Sang Pencipta tak pernah pudar. Lumpur dan air bah tak mampu menghapus kekhusyukannya.
Di tempat lain, ditemukan seorang ibu yang mendekap erat anaknya, melindungi dengan segenap jiwa dan raga. Pelukan itu adalah perisai terakhir, sebuah ungkapan cinta yang tak terhingga. Meskipun air bah telah merenggut nyawa mereka, cinta mereka tetap abadi, melampaui batas dunia dan akhirat.
Yusuf dan tim penyelamat adalah pahlawan sejati, berjuang tanpa lelah untuk mencari dan menyelamatkan nyawa yang tersisa. Namun, di balik setiap keberhasilan, ada kepedihan yang mendalam. Mereka menyaksikan wajah-wajah yang telah pergi untuk selamanya, wajah-wajah yang menyimpan kisah-kisah pilu yang tak sempat terungkap. Wajah-wajah itu adalah cermin dari tragedi yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Mungkin ini adalah ujian dari Allah SWT, sebuah cobaan yang harus kita hadapi dengan sabar dan tawakal. Mungkin ini adalah cara-Nya mengingatkan kita akan kerapuhan hidup, akan pentingnya menjaga iman, dan akan arti pentingnya cinta dan kasih sayang.
Kesedihan ini adalah bisikan terakhir di tengah deru bencana, sebuah pesan yang menggugah hati dan jiwa. Setiap wajah adalah sebuah pelajaran tentang kehidupan, tentang kematian, dan tentang cinta yang abadi.
.
Editor : Syam












