Oleh Ansyori Ali Akbar, (Penikmat Kopi Tampa Gula) . Kamis.01.01.2026
Pergantian tahun dari 2025 ke “2026” datang tanpa suara gemuruh tak bertepi; tidak ada garis batas yang benar-benar kasat mata, tidak pula tanda resmi bahwa sebuah era telah berakhir, namun setiap individu merasakan pergeseran perlahan namun pasti dalam cara hidup, berpikir, dan memaknai dunia.
Tahun 2025 kemungkinan akan dikenang sebagai masa ketika waktu terasa semakin sempit, hari-hari berlalu cepat, informasi datang berlapis-lapis, dan manusia hidup dalam kelelahan tak terdefinisikan, kita sibuk bergerak, namun jarang bertanya apakah semua ini membawa kita ke arah yang lebih manusiawi atau justru menjauhkan kita dari diri sendiri.
Memasuki “2026”, dunia berdiri di hadapan paradoks besar, di satu sisi, teknologi menjanjikan keterhubungan tanpa batas, di sisi lain, manusia semakin terasing dari sesamanya, dari alam, bahkan dari pikirannya sendiri, kita hidup di era di mana segalanya bisa diukur, direkam, dan dianalisis, tetapi empati, kebijaksanaan, dan keheningan justru menjadi barang langka.
Pergantian era hari ini bukan tentang runtuhnya gedung atau tumbangnya rezim, ia terjadi di ruang-ruang sunyi, dalam cara manusia memandang kebenaran, dalam bagaimana kita memperlakukan perbedaan, dan dalam seberapa jauh kita masih percaya pada nilai yang tidak bisa dikonversi menjadi angka atau keuntungan.
Generasi baru tumbuh dalam dunia yang tidak pernah benar-benar berhenti; mereka diwarisi kecepatan, bukan ketenangan, peluang, tapi juga kecemasan,tahun “2026” menuntut lebih dari sekadar adaptasi, ia menuntut kesadaran bahwa masa depan tidak hanya dibangun oleh inovasi, melainkan oleh pilihan etis yang dibuat hari ini.
Dalam lanskap global yang rapuh—krisis iklim yang semakin nyata, konflik yang berulang dengan wajah baru, serta ketimpangan yang terus beranak-pinak—pergantian tahun seharusnya menjadi momen untuk bertanya ulang apakah kita sedang menciptakan kemajuan atau hanya memperhalus bentuk kerusakan.
Refleksi tidak selalu berujung pesimisme,justru di tengah ketidakpastian, harapan menemukan ruangnya, harapan bahwa manusia masih mampu belajar untuk melambat, mendengar, dan merawat kembali makna,bbahwa di tengah dunia yang terus menuntut lebih, kita berani memilih cukup.
Tahun “2026” hadir bukan sebagai janji kosong, melainkan sebagai pertanyaan terbuka tentang arah, tanggung jawab, dan keberanian untuk tetap menjadi manusia di era yang semakin tidak sabar terhadap kemanusiaan itu sendiri; pergantian tahun, pada akhirnya, bukan tentang apa yang ditinggalkan, melainkan tentang apa yang berani dan harus kita jaga.
Editor : A. Ali Akbar












